• Senin, 24 Januari 2022

Merawat Iman Pasca Ramadan

- Senin, 24 Mei 2021 | 15:14 WIB
IMG-20210524-WA0015
IMG-20210524-WA0015

Oleh: Finka Setiana Adiwisastra (Mahasiswa S1 Hubungan Internasional Unila&Penulis Buku Mahakarya Untuk Indonesia)

Ramadan 1442 Hijriah berlalu bersama waktu yang terus bergulir. Rasanya cepat saja melewati Ramadan, meskipun masa-masa itu terhitung selama satu bulan penuh. Mungkin karena rasa menjalaninya dengan nikmat sehingga waktu rasanya bergulir dengan cepat. Satu bulan seakan satu hari saja dalam sekejap mata.

Terlepas dari masa-masa Ramadan yang bergulir dengan cepat, Ramadan senantiasa memiliki ciri khas tersendiri. Suasana Ramadan akan terasa beda bagi umat Islam, karena suasananya yang begitu damai dan tentram. Umat Islam pun menjalaninya dengan suka cita yang mendalam sehingga Ramadan sudah menjadi seakan keluarga atau tamu mulia yang singgah bersama.

Suasana Ramadan yang terasa begitu damai menyelimuti pandemi yang belum juga pergi. Pandemi menjadi ujian bagi umat Islam di bulan Ramadan yang penuh berkah dan rahmat Allah. Dengan ujian itu, seseorang tentunya akan dimuliakan atau dihinakan. Tinggal bagaimana seseorang menyikapinya dengan bijaksana agar kemudian dapat menjadi mulia dengan ujian.

Terhitung sudah sekitar dua tahun umat Islam menjalani prosesi Ramadan bersama pandemi yang belum kunjung usai. Namun, umat Islam tentu akan tetap menyambut Ramadan dengan semangat yang menggebu dan menyala bak kobaran api agar hari-hari Ramadannya dapat dilewatkan dengan penuh makna yang mendalam. Memaknai Ramadan memang haruslah tepat agar seseorang dapat mengambil ‘ibroh daripada Ramadan.

Di tengah pandemi yang terjadi, Ramadan datang kepada umat Islam dengan membawa karunia yang tak terhingga. Sekiranya ada seseorang yang ingin coba menghitung karunianya, maka orang tersebut akan mencapai kemustahilan karena tidak mampu menghitungnya secara pasti. Seperti itulah Ramadan yang dikenal dengan bulan yang memiliki banyak karunia bagi umat Islam.

Karunia Ramadan hadir bersama kurikulum yang dikemas sedemikian rupa dalam agenda Madrasah Ramadan. Ramadan itu bagaikan madrasah atau sekolah yang mendidik umat Islam untuk memiliki iman yang utuh dengan berbagai pilar iman yang ada. Keutuhan iman itu didapatkan bagi seseorang dari umat Islam yang betul-betul menjalani Ramadan dengan penuh totalitas tanpa batas. Pada dasarnya iman itu akan bisa dirawat oleh seseorang yang rajin memperhatikannya setiap waktunya.

Perlu adanya pendekatan dalam merawat iman selama menjalani pendidikan di Madrasah Ramadan. Salah satunya dengan hati yang jernih dalam merasa yakin terhadap seluruh pilar iman yang berlaku dalam kehidupan. Dengan kejernihan hati, akan sangat mungkin iman akan dapat dirawat dengan sebaik-baiknya, karena sebelumnya sudah ada asas-asas yang melandasinya. Rasa yakin sepenuh hati bagaikan pondasi dalam suatu bangunan yang kokoh, karena itu dalam membangun kerangkanya seseorang yang memiliki dasarnya terlebih dahulu melalui rasa yakin tersebut.

Lebih sulit lagi ketika seseorang harus diajak merawat iman pasca Ramadan, karena banyak orang yang sudah knock out akibat miskonsepsi terhadap Ramadan. Banyak orang yang terjebak dengan pikirannya, bahwa ketaatan itu memang harusnya dilakukan selama Ramadan saja tanpa berkelanjutan pada bulan-bulan berikutnya. Padahal, salah satu indikator diterimanya suatu amal ibadah pada Ramadan yakni ibadah berkelanjutan yang dilakukan oleh seorang muslim dalam kesehariannya menurut penuturan Imam Hambali.

Pasca Ramadan tepatnya di bulan Syawal sebagai bulan peningkatan, maka seluruh muslim harusnya dapat menjalani ibadah dengan berbagai peningkatannya. Justru, jangan sampai ibadahnya kendor dengan kelalaian-kelalaian sebagai seorang manusia pasca Ramadan. Lalai karena terlalu banyak makan dan minum misalnya atau yang semacamnya sehingga kualitas ibadah menjadi kian menurun hingga merosot. Karena itu, sebagai seorang muslim haruslah merawat iman pasca Ramadan dengan sebaik mungkin seakan merawat tanaman hias yang disayanginya.

Kualitas iman harus tetap meningkat di bulan Syawal dan bulan-bulan seterusnya, karena setiap muslim bertekad untuk merawatnya dengan baik. Dengan modal tekad yang kuat, pastinya iman setiap muslim akan terawat dengan baik karena adanya dorongan-dorongan yang kencang. Sehingga seorang muslim tentu akan menjalani hari-hari dalam setiap bulannya dengan penuh bermakna karena dikuatkan dengan upaya-upaya merawat dengan baik.

Dengan demikian, ibadah-ibadah yang ditunaikan oleh setiap muslim hendaklah penuh dengan perjuangan agar imannya utuh dengan makna yang membersamainya. Iman setiap muslim akan lebih bermakna, karena orang yang bersangkutan hendak merawatnya dengan baik. Memintalah kepada Allah Swt sebagai Rabb seluruh alam semesta untuk menghidupkan dan mematikan bersama iman hingga berkumpul di surga bersama orang yang beriman.

Editor: Administrator

Terkini

Kampus dalam Perlindungan Permendikbud 30 2021

Senin, 13 Desember 2021 | 13:45 WIB

Ekspresi Kegembiraan Sepak Bola Presiden Jokowi

Minggu, 3 Oktober 2021 | 13:19 WIB

Soal Pengaduan ke Dewan Pers

Kamis, 9 September 2021 | 15:54 WIB

Reign of Fear: Cara Orang Bodoh Memimpin Negara

Sabtu, 4 September 2021 | 15:26 WIB

Refleksi Kebangsaan di Hari Kemerdekaan

Selasa, 17 Agustus 2021 | 21:13 WIB

Lucu-lucuan dalam Getir PPKM

Senin, 19 Juli 2021 | 11:30 WIB

Informasi Jernih Dalam “Perang Posting”

Selasa, 6 Juli 2021 | 16:41 WIB

Menanti Keputusan dari (Bukan) Tuhan

Selasa, 1 Juni 2021 | 15:52 WIB

“Iman” Sepak Bola Pep Guardiola

Sabtu, 29 Mei 2021 | 19:09 WIB

Semesta Mathla'ul Anwar

Sabtu, 29 Mei 2021 | 13:20 WIB

Merawat Iman Pasca Ramadan

Senin, 24 Mei 2021 | 15:14 WIB
X